Newest Post

Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan

Hormat dan Patuh kepada Orang Tua dan Guru

| Minggu, 27 November 2016
Baca selengkapnya »
A. Sayang, Hormat, dan Patuh kepada Orang Tua
1. Makna Orang Tua bagi Anak Orang tua memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.
Setiap anak memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Kasih sayang yang tulus yang diberikan orang tua tidak akan mampu dibayar dengan uang oleh seorang anak. Oleh karena itu, kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan orang tua harus dibalas dengan kebaikan, kasih sayang, dan pengorbanan yang serupa, meski tidak sebanding. Islam mengenal dua macam orang tua yang harus dihormati, yakni orang tua biologis yang telah melahirkan kita dan orang tua rohani yang telah mengantarkan kita mengenal Allah Swt. 
2. Kewajiban Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, mengasihi, menyayangi, menghormati, mendoakan, taat, dan patuh terhadap apa yang mereka perintahkan, termasuk melakukan hal-hal yang mereka sukai adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anak kepada orang tuanya. Perilaku tersebut di dalam istilah agama Islam dinamakan birrul walidain.
Birrul walidain adalah hak kedua orang tua yang harus dilaksanakan oleh setiap anak, sepanjang keduanya tidak memerintahkan atau menganjurkan  kemaksiatan atau kemusyrikan. Bahkan, seorang anak tetap harus berbakti meskipun orang tuanya kafir atau musyrik. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam surah Luqmān/31:15 yang artinya, “Jika keduanya (ibu bapakmu) memaksamu supaya engkau musyrik, menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak ketahui, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik.”
Islam mengatur hubungan antara anak terhadap kedua orang tuanya dan tata cara pergaulannya. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang saling berkaitan. Seorang anak tidak diperkenankan mengucapkan kata-kata yang kurang berkenan terhadap kedua orang tua, apalagi hingga membuat mereka sakit hati. Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S. al- Isrā/17:23)
Ayat ke-23 surah al-Isrā di atas, menjelaskan bahwa setiap anak mesti memberikan perhatian kepada orang tuanya. Sopan santun, baik dalam ucapan maupun perbuatan merupakan nilai-nilai yang harus dilakukan seorang anak kepada orang tuanya. Bahkan, ucapan “ah”, “ih”, “hus” yang bernada penolakan atau pembangkangan terhadap perintahnya adalah dilarang, apalagi sampai memukul atau perbuatan kasar lainnya yang menyakiti mereka. Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman
Artinya: “Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Jadi, jelaslah bahwa perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan perintah langsung dari Allah Swt. yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang beriman. Kepatuhan kepada kedua orang tua merupakan bukti kepatuhan kepada Allah, dan kedurhakaan kepada keduanya merupakan kedurhakaan kepada Allah Swt.

B. Hormat dan Patuh kepada Guru
1. Makna Seorang Guru
Guru adalah orang yang memberikan pengetahuan sekaligus pendidikan akhlak terhadap murid-muridnya. Ia mengajari cara membaca, berhitung, berpikir, dan sebagainya. Guru juga mengajarkan nilai-nilai moral dan nilai- nilai akhlak yang tinggi kepada murid-muridnya. Ia tidak hanya memberikan pengetahuan saat di sekolah, tetapi juga memberikan bimbingan saat dibutuhkan di luar sekolah.
Setiap guru pasti akan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang mungkin tidak didapatkan seorang anak dari orang tuannya di rumah. Tanpa pendidikan dan bimbingannya, bisa jadi kita tidak akan mengetahui segala yang nyata maupun yang tersembunyi di alam raya ini. Tanpa bimbingannya pula, bisa jadi kita tidak dapat membedakan mana yang benar maupun yang salah, mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang. Jasa seorang guru dalam mendidik dan mencerdaskan murid-muridnya tidaklah dapat diukur dengan materi. Berkat jasa gurulah, kita menjadi terpelajar.
Dalam ajaran Islam, guru atau ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan luas dibandingkan dengan orang lainnya. Ia merupakan pewaris para nabi dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “...Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Q.S. Fāthir/35:28)

Artikel Oleh : Hani Khairunnisa
Sumber : Buku Paket Pendidikan Agama Kelas X

Hormat dan Patuh kepada Orang Tua dan Guru

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 27 November 2016
With 0komentar
Tag :

SALMAN AL-FARISI

| Minggu, 20 November 2016
Baca selengkapnya »


SALMAN AL-FARISI

     Assalamualaikum saudaraku. Kini kami ingin berbagi kisah tentang Salman Al-Farisi. Kami mengambil kisahnya dari buku berjudul Biografi 60 Sahabat Nabi, yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid, yang dikenal sebagai pemikir Islam kontemporer asal Mesir.
     Mari kita lihat sepotong kisah tentang Salman Al-Farisi, dan langsung saja kita persilahkan ia yang menceritakannya langsung kepada kita.

“Aku berasal dari Asbahan, warga suatu desa yang bernama Ji (Jayyan). Ayahku seorang kepala kampung di daerah itu, dan aku merupakan hamba Allah yang paling disayang olehnya. Aku sangat taat menjalani agama Majusi, hingga akhirnya diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.
Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ketempat tujuan, aku melewati sebuah gereja milik kaum Nasrani. Aku mendengar mereka sedang mengadakan “Kebaktian”, lalu aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.
Aku kagum melihat cara mereka beribadah. Aku berkata di dalam hati, ‘Ini lebih baik daripada apa yang aku anut selama ini.’ Aku tidak beranjak dari tempat itu hingga matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku serta tidak pula kembali pulang, hingga ayah mengirim orang untuk menyusulku. Karena agama mereka menarik perhatianku, aku menanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka. Mereka menjawab, ‘Dari Syria.’
Ketika aku telah berada di hadapan ayahku, aku bercerita kepadanya, ‘Aku tadi melewati suatu kaum yang sedang melakukan upacara peribadatan di gereja. Upacaranya sangat memikat hatiku. Aku merasa agama mereka lebih baik dari agama kita.’ Setelah itu kami berdebat dan akhirnya kakiku diikat dan aku dipenjarakan.
Aku mengirim berita kepada orang-orang Nasrani bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku juga berpesan bila rombongan dari Syria datang, aku hendaknya dikabari sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan.
Aku memutus rantai yang membelenggu kakidan meloloskan diri dari penjara, lalu bergabung dengan rombongan itu menuju Syria. Ketika telah tiba di tempat tujuan, aku menanyakan siapakah ahli dalam agama itu. Ada seseorang mengatakan kepadaku bahwa orang yang aku maksud adalah uskup, pemilik gereja. Aku pun mendatanginya dan menceritakan keadaaku.
Akhirnya aku tinggal bersamanya sebagai pelayan, sekaligus melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Namun, uskup ini adalah sosok yang tidak baik dalam menjalankan ajaran agamanya. Pasalnya ia mengumpulkan sedeka dari orang-orang dengan alas an untuk dibagikan, namun ternyata disimpan untuk dirinya pribadi.
Kemudian uskup itu wafat. Orang-orang mengangkat orang lain sebagai gantinya, dan aku berpikir tidak ada seorang pun yang lebih baik agamanya daripada uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tidak ada orang yang lebih kucintai sebelum itu daripada dirinya.
Tatkala ajalnya telah dekat, aku bertanya kepadanya, ‘Seperti yang Anda ketahui, takdir Allah atas diri Anda telah dekat masanya. Apakah yang harus aku lakukan dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubugngi?’ Ia menjawab, ‘Anakku, tidak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul.’
Ketika ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Aku menceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudiam tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya, siapa yang harus aku ikuti. Ia pun menunjukan kepadaku seorang yang saleh yang tinggal di Nashibin. Aku mendatanginya dan menceritakan keadaanku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.
Ketika ia telah mendekati ajalnya, aku menanyakan hal yang sama kepadanya. Aku diperintahkan olehnya agar menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat kesana dan tinggal bersamanya. Sebagai bekal hidup, aku beternak dapi dan beberapa ekor kambing.
Saat ajal hampir menjemputnya, aku pun menanyakan kepadanya, ‘Siapakah yang engkau wasiatkan agar aku mengikutinya?’ Ia menjawab, ‘Anakku, tidak ada seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi, sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gambblang: ia tidak mau makan sedekah, namun bersedia menerima hadiah, dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila engkau melihatnya, engkau pasti mengenalinya.’
Suatu hari, suatu rombongan datang, lalu aku menanyakan dari mana asal mereka. Akhirnya aku mendapatkan jawaban bahwa mereka berasal dari Jazirah Arab, maka aku katakana kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambing ini?’ Mereka menjawab ‘Baiklah.’
Akhirnya mereka membawaku ikut dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di tempat itulah mereka menzalimi diriku. Mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Ketika tampak olehku pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku tidak benar.
Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraizhah yang membeliku dari yang membeliku sebelumnya. Aku dibawanya ke Madinah, dan – demi Allah – baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.
Aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga tiba waktu Allah mengutus Rasul-Nya, lalu hijrah ke Madinah dan singgah di Bani Amr bin Auf di Quba’.
Suatu hari ketika aku berada di puncak pohon kurma sementara majikanku duduk di bawahnya, tiba-tiba seorang Yahudi saudara sepupunya datang menghampirinya dan mengatakan, ‘Celakalah Bani Qailah! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba’ yang datang dari Mekkah dan mengaku sebagai nabi.’
Demi Allah, tubuhku bergetar hebat seketika mendengar ucapan orang itu hingga pohon kurma itu bagai berguncang dan hampir saja aku jatuh menimpa manjikanku. Aku segera turun dan berkata, ‘Apa katamu? Ada berita apakah?’
Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, dan membentak, ‘Apa urusanmu dengan ini, kembalilah bekerja!’ Aku pun kembali bekerja.
Setelah hari petang, aku mengumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar untuk menemui Rasulullah saw., di Quba’. Aku menjumpai beliau ketika sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu berkata kepadanya, ‘Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kuniatkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan tuan-tuan, aku berpikir bahwa tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa kesini.’ Aku pun meletakkan makanan itu dihadapan beliau.
Makanlah dengan menyebut nama Allah,” sabda Rasulullah saw., kepada para sahabatnya. Tetapi, beliau tidak mengulurkan tangannya untuk menjamah makanan itu. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah inilah satu dari tanda-tandanya, ia tidak mau memakan harta sedekah.’
Setelah itu aku pulang dan keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah saw., sambil membawa makanan. Aku berkata kepadanya, ‘Aku melihat tuan tidak sudi memakan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah.’ Kemudian aku meletakkan makanan itu dihadapan beliau. “Makanlah dengan menyebut nama Allah,” sabda beliau kepada sahabat, dan beliau pun turut makan bersama mereka. Aku kembali berbisik ‘Demi Allah, inilah tanda-tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah.’
Setelah itu  aku pulang dan tinggal ditempatku setelah beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah saw., dan berjumpa di Baqi’, saat sedang mengiring jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Beliau memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan satu dipakainya untuk baju.
Aku mengucapkan salam kepada beliau dan kemudian menyejajarkan tubuhku di dekat beliau untuk melihat bagian atas punggungnya. Ternayat beliau memahami keinginanku dan menyingkap kain burdah beliau dari lehernya hingga tampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian seperti disebutkan  oleh pendeta dulu. Aku pun langsung membalikkan badan dan menciuminya sambil menangis.
Kemudian Rasulullah saw., memanggilku. Akku duduk di hadapan beliau dan  menceritakan kisahku seperti yang telah kuceritakan tadi. Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai Perang Badar dan Uhud.
Suatu hari, Rasulullah saw.,  bersabda kepdaku, ‘Mintalah keapda majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.’ Aku pun meminta kepada majikanku agar aku dibebaskan sebagaimana dititahkan oleh Rasulullah saw., sedangkan beliau menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam persoalan keuuangan. Akhirnya, aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang muslim yang bebsa merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah saw., dalam perang Khandaq dan peperangan selanjutnya.”

Begitulah saudaraku. Kisah tentang perjalanan Salman Al-Farisi yang kami ambil dari buku Biografi 60 Sahabat Nabi. Kisah ini disebutkan di dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, juz IV.
Jika kalian penasaran mengenai kisah-kisah para sahabat Rasulullah saw., yang lainnya, kalian bisa membacanya pada buku tersebut di toko buku kesayangan kalian.
Semoga kisah yang kami berikan tadi dapat memberikan pelajaran dan menambah keimanan kita semua. Aamiin.


Sumber :


Khalid, Khalid Muhammad. 2015. Biografi 60 Sahabat Nabi. Jakarta. Ummul Qura.

SALMAN AL-FARISI

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 20 November 2016
With 0komentar
Tag :

Puisi Rindu

| Sabtu, 26 Juli 2014
Baca selengkapnya »

Ku Titip Rindu

Sunyinya malam
Menyelimutiku dalam kedinginan
Hanya dewi malam
Yang menerangiku dengan sinarnya yang abadi
Suara desis pensil
Mengguratkan rasa rindu yang manggebu-gebu
Disana kutulis sebuah nama
Nama yang sudah lama membekas di hati
Kutuangkan semua rindu
Diatas selembar kertas tipis
Dewi malam bolehkah aku meminta?
Jadilah sebuah kau hologram mimpi
Agar kau dapat mengirimkan sepucuk rindu itu padanya
Hingga pada saat ia terbangun
Rindu ini telah sampai ditelinganya
Dan jika ia tidak menemukan sepucuk rindu itu
Coba lihat dibawah bantal tidurnya
Mungkin dewi malam meninggalkannya disitu


Karya  : Hany Khairunnisa 

Puisi Rindu

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 26 Juli 2014
With 0komentar
Tag :
Prev
▲Top▲